NORA's ELECTRONIC INTIFADA TO SUPPORT THE KHILAFAH

NORA's ELECTRONIC INTIFADA TO SUPPORT THE KHILAFAH
Khaibar O`Zionist and Secularism. Support HAMAS and PALESTINE.

Thursday, January 22, 2009

Perjuangan Intifada Palestine

Perjuangan Panjang HAMAS dan Jihad Palestina

HAMAS dibangun pertama kali oleh ulama kharismatik Syekh Ahmad Yassin, ulama kelahiran tahun 1939 di Al Joura, 20 km utara Gaza, dan kemudian tinggal di sebuah flat di kota Gaza sejak awal tahun 1970-an. Saat itu, banyak pemimpin Islam di Palestina maupun tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin di berbagai negara Arab yang dibebaskan dari penjara dan kamp-kamp penyiksaan, termasuk Syekh Ahmad Yasin. Saat usia beliau masih 10 tahun, beliau dan keluarganya telah dipaksa menjadi pengungsi oleh agresor Israel pada tahun 1948. Saat masih remaja Syekh Ahmad Yassin mengalami kecelakaan saat ia berolah raga. Setelah kejadian tersebut, ia menjalani hidupnya di atas kursi roda. Di atas kursi roda itulah seruan intifadhah beliau serukan dan di atas kursi roda itu pulalah tiga rudal zionis Israel menghantarkan beliau syahid.




Beliau tampil membina dan membimbing umat yang saat itu sudah rusak dan hampir putus asa, dibantu oleh Fathi Yakan, Syekh Ahmad Qathan, dan lainnya. Mereka membangkitkan kembali ruhul Islam dan ruhul Jihad kaum Muslimin Palestina sehingga memunculkan momentum intifadhah yang sekaligus memunculkan HAMAS untuk komitmen berjuang membebaskan tanah Palestina, tanahnya orang-orang Muslim dari agresor zionis yahudi.

HAMAS tidak menganggap intifadhah sebagai akhir dari perjuangan mereka, tetapi sebagai mata rantai dari perjuangan panjangnya. Gerakan Perlawan Islam tidak menghendaki pengorbanan habis-habisan melalui perang dengan batu, melainkan sebuah upaya membebaskan tanah Palestina secara menyeluruh melalui peperangan yang melibatkan seluruh putra Palestina juga seluruh kaum Muslimin di dunia.

Komitmen dan perjuangan nyata HAMAS berhasil merebut simpati umat Palestina, khususnya di Gaza dan Tepi Barat. HAMAS yang juga memiliki sayap politik dan sosial selain sayap militer semakin dikenal dan disukai masyarakat Palestina secar luas. Pada saat itulah ujian dan cobaan menerpa HAMAS. Perjuangan suci untuk membebaskan tanah Palestina dengan satu-satunya jalan, yakni jihad mulai dikotori dengan sistem pemilu demokrasi ala Barat yang nampak indah dan memukau.

HAMAS akhirnya terjebak untuk ikut sistem pemilu demokrasi kufur, yakni pada pemilihan parlemen pada tahun 2006. HAMAS, terutama sayap politiknya semakin terpedaya dan terpukan dengan kemenangan yang mereka peroleh, mendapatkan 76 dari 132 kursi yang diperebutkan. Kemenangan HAMAS dalam demokrasi kufur terebut sudah barang tentu tidak diakui Israel. Selain itu, kemenangan HAMAS menjadi pemicu kecemburuan faksi Fatah yang sedari dulu menempuh jalan kompromi dan damai dengan Israel. Pertikaian antara HAMAS dan Fatah pun tidak bisa dihindari

Pimpinan HAMAS, Khaled Mashal, dalam sebuah wawancara dengan Koran Rusia, Nezavisimaya Gazeta, pada tanggal 13 Februari 2006 menyatakan kemungkinan HAMAS untuk hidup berdampingan dengan Israel dengan beberapa syarat. Syarat itu antara lain pengakuan batas wilayah 1949, penarikan Israel dari semua wilayah Palestina yang diduduki termasuk Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Selain itu Israel juga harus mengakui hak-hak warga Palestina, termasuk hak untuk kembali ke tanah airnya.

Sikap melunak HAMAS ini tentu saja sangat disesali sebagian besar kaum Muslimin yang telah menyadari bahwa kaum zionis yahudi Israel tidaklah mengenal bahasa damai dan taat terhadap perjanjian yang dibuat. Organisasi jihad global Al Qaida, melalui Syekh Aiman Az Zawahiri saja sampai mengeluarkan sebuah statemen yang cukup keras kepada HAMAS sebagai sebuah nasihat agar tidak mengambil jalan dami, jalan parlemen, dan hanya menggunakan jalan suci jihad fie sabilillah untuk membebaskan tanah Palestina.

Dampak pilihan HAMAS mulai terjadi. Pasca terbentuknya kabinet HAMAS melalui sistem kufur pemilu demokrasi, pada tanggal 20 Maret 2006, HAMAS bentrok dengan Fatah di jalur Gaza. Bentrokan yang sangat memilukan tersebut akhirnya bisa diakhiri pada 27 Juni 2006. Namun kesepakatan tersebut tidak berarti karena sejak 9 Juni 2006 Israel memulai penyerangan kepada HAMAS di Gaza.

HAMAS berhasil menangkap seorang tentara Israel Gilad Shalit. Israel membalas dengan menangkap 64 pejabat HAMAS, termasuk anggota kabinet dan legislatif. Penangkapan politisi HAMAS ini memberi peluang Fatah untuk mengambil kesempatan yang akhirnya menimbulkan konflik susulan antara HAMAS dan Fatah dan diakhiri dengan dibagi duanya wilayah Palestina dimana HAMAS menguasai Gaza dan Fatah menduduki Tepi Barat.

Pada tanggal 18 Juni 2008 tercapai kesepakatan gencetan senjata antara Israel dengan HAMAS selama enam bulan. Kompensasinya adalah HAMAS harus menyerahkan Gilad Shalit untuk ditukarkan dengan 40 tawanan HAMAS oleh Israel.

Belum genap perjanjian gencetan senjata berakhir, Israel menunjukkan watak aslinya sebagai kaum pengkhianat. Pada 4 November 2008, Israel menyerang enam pejuang HAMAS dalam sebuah patroli militer di Gaza. HAMAS pun membalas serangan tersebut dengan menembakkan roket-roketnya ke wilayah Israel. Israel tidak terima wilayahnya diserang dan melalui Perdana Menterinya, Ehud Barak, dilancarkanlah serangan bumi hangus dengan sandi “Operation Cast Lead” pada tanggal 27 Desember 2008 hingga detik ini.

Ribuan kaum Muslimin Palestina menemui syahid dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Wilayah Gaza kembali menjadi saksi bahwa Israel hanya mengenal bahasa perang. HAMAS kembali diuji komitmennya untuk berjihad mempertahankan dan membebaskan tanah Palestina. Tanahnya kaum Muslimin.


koleksi arrahmah.com; buat tatapan sahabat

ikhlas;
-nora-
Everydaya a better believer.

No comments: